Pelukis Bukan Profesi Biasa

Tidak sedikit yang menganggap melukis hanya sekadar hobi. Pelukis dianggap hanya sekadar seniman, bukan profesi yang dapat diandalkan untuk masa depan. Namun, asumsi itu tidak sepenuhnya benar. Hal ini yang coba dibuktikan oleh Naufal Abshar, seorang seniman seni rupa yang beberapa waktu lalu berkunjung ke SMA PU Al Bayan Anyer dalam sebuah acara yang bertajuk “Kelas Inspirasi” pada Selasa (14/8/2018). Acara tersebut digelar untuk membuka wawasan para siswa tentang berbagai profesi sehingga cita-cita mereka tidak hanya terpaku pada profesi konvensional seperti dokter, insinyur, enginer, dan lain-lain.

Acara yang digelar di Aula Masjid Nurul Mahmudah tersebut berlangsung santai. Namun, ada yang spesial karena yang berlaku sebagai moderator adalah Bapak Fajar Maulan, S.E., M.B.A., ketua Yayasan Titian Tiara Cendekia, yang tak lain merupakan paman Naufal. Dalam talkshow tersebut, Bapak Fajar menggali perjalanan karir melukis Naufal. Naufal pun banyak menceritakan seputar pengalamannya mulai dari awal ia gemar melukis sampai kini menjadi pelukis profesional.

Naufal mulai suka melukis sejak ia kecil. Hobi itu terus ia geluti ketika di bangku sekolah. Sampai ada pengalaman menarik ketika ia di bangku SMA. “Saya dulu sering menggambar ketika guru menerangkan pelajaran. Tapi yang ini jangan ditiru,” kenangnya seraya bergurau. Hobi tersebut berlanjut hingga ia lulus sekolah dan membawanya menjadi pelukis profesional.
Mahasiswa Lasalle College Of The Arts Singapura itu sering menggelar  pameran, baik tingkat nasional sampai bertaraf internasional. Ini membuatnya banyak dikenal di kancah seni rupa dunia. Lukisannya banyak diminati karena memiliki karakter yang kuat dengan tema lukisan komedi yang dikenal dengan serialhahaha. Sebagian besar lukisannya menggambarkan orang-orang sedang tertawa. Ketika salah satu peserta bertanya tentang arti ketawa di lukisannya, ia menjawab bahwa ia ingin melepaskan tekanan hidup dan mengkritisi lingkungan di sekitarnya. “Hidup kini semakin serius. Di tempat saya tinggal (red: Singapura), orang-orang larut dengan segala aktivitasnya,” tuturnya.

Kini ia mampu membuktikan kalau pelukis bukanlah profesi yang main-main. Buktinya, lukisannya diburu para kolektor seni dunia dan dihargai samapai ratusan juta. Sebenarnya Naufal sendiri mengaku tidak menyangka jikia lukisannya bisa diapresiasi dengan harga sangat tinggi oleh seorang kolektor. Padahal lukisan tersebut menurutnya bukan lukisan terbaiknya. Begitulah ia meyakini bahwa karya seni memiliki nilai estetika yang subjektif. Tergantung pada selera penikmatnya.

Para peserta yang sangat antusias menyimak cerita Naufal jadi penasaran dengan rahasia di balik kesuksesan. Naufal pun membagi kunci suksesnya menjadi pelukis muda yang sukses di dunia seni rupa. “Kuncinya adalah harus konsisten. Profesi apa pun, bila ditekuni pasti akan membawa keberhasilan,” ungkapnya. Lebihn lanjut, ia juga mengungkapkan bahwa sebenarnya ada faktor X di balik keberhasilannya atas raihan selam ini, yaitu senantiasa taat sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT dan berbakti kepada orang tua.

Bagikan :

WhatsApp
Facebook
Threads
Telegram

© 2018 - 2018 Al Bayan Anyer

selamat Datang di laman kami